BeritaKarhutlaPemerintah

SAAT KARHUTLA MELUAS DI KETAPANG: MASYARAKAT BERTANYA, KE MANA WAKIL BUPATI JAMHURI?

×

SAAT KARHUTLA MELUAS DI KETAPANG: MASYARAKAT BERTANYA, KE MANA WAKIL BUPATI JAMHURI?

Sebarkan artikel ini

KETAPANG – Kabut asap tebal kembali menyelimuti sejumlah wilayah Kabupaten Ketapang, seiring melebarnya titik-titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang tak kunjung padam. Di tengah kepanikan dan penderitaan warga yang terus berhadapan dengan ancaman bahaya serta gangguan kesehatan, satu pertanyaan besar bergema di mana-mana: Ke mana keberadaan Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri?

Seperti terlihat jelas, api merambat luas di 15 dari 20 kecamatan di kabupaten ketapang hingga kini merambah ke kawasan Tanjung Baik Budi, kampung-kampung sekitarnya, serta wilayah Kecamatan MHU dan sekitarnya yang merupakan Kampung Halaman Wakil Bupati Ketapang. Warga mengaku bingung dan sedih, karena meski bahaya sudah begitu dekat mengancam rumah dan mata pencaharian mereka, sosok wakil kepala daerah yang seharusnya menjadi garda terdepan justru tak terlihat hadir. “Kami melihat asap terus mengepul, api makin meluas, tapi sampai sekarang belum ada langkah nyata atau kehadiran langsung Pak Jamhuri untuk menolong atau memimpin penanganan di lapangan,” keluh salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Publik pun mulai mempertanyakan: Apa yang sebenarnya sudah dilakukan Jamhuri dalam penanganan bencana karhutla ini?

Selama ini kehadirannya hanya terlihat terbatas pada kegiatan seremonial, upacara, atau kunjungan simbolis belaka. Namun saat api benar-benar membesar dan warga membutuhkan perlindungan serta arahan, tak ada jejak langkahnya turun langsung ke lokasi kebakaran, apalagi membantu warga yang terdampak secara nyata.

Lebih menyakitkan lagi, pada tanggal 4 september 2026 masyarakat mencatat satu hal yang terasa sangat kontras: Wakil Bupati diketahui sudah turun ke lokasi kebakaran di KM 37, Desa Tolak, Kecamatan Matan Hilir Utara namun bukan untuk membantu warga umum, melainkan hanya untuk mengurus dan memadamkan kebakaran di kebun sawit milik pribadinya sendiri yang terbakar puluhan hektare.

Hal ini memicu kemarahan sekaligus kekecewaan mendalam. “Apakah Pak Jamhuri hanya peduli saat harta pribadinya terancam? Di saat ribuan warga lain bernapas susah, rumah dan ladang mereka terancam api, di mana perhatiannya? Apakah kehadirannya hanya ada jika menyangkut kepentingan pribadi, dan berdiam diri saat rakyat menderita?” tanya warga dengan nada kecewa.

Kondisi lingkungan pun semakin memburuk: hutan terus terbakar habis, udara makin beracun dan berbahaya bagi kesehatan, sementara masyarakat semakin tertekan namun tak mendapatkan perlindungan yang layak.

Karhutla bagi masyarakat Ketapang bukan sekadar bencana alam, melainkan ujian nyata atas kepemimpinan. Warga tidak lagi hanya ingin melihat seremonial atau janji-janji indah mereka menuntut tindakan nyata, kehadiran yang tulus, dan tanggung jawab penuh dari para pemimpin yang mereka pilih. Hingga saat ini, pertanyaan besar masih menggantung: Kapan Wakil Bupati Jamhuri benar-benar hadir untuk rakyat, dan berhenti membedakan mana kepentingan pribadi dan mana kewajiban negara?(DMS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *