KETAPANG – Sorotan tajam dan keraguan masyarakat yang ramai diperbincangkan di media massa maupun media sosial terkait keberadaan Wakil Bupati Ketapang, Jamhuri Amir, di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Ketapang, akhirnya mendapatkan jawaban resmi. Setelah berhari-hari publik bertanya-tanya di mana posisi pemimpin daerah tersebut saat bencana melanda, Jamhuri Amir akhirnya memberikan klarifikasi langsung melalui sambungan telepon kepada awak media, menyatakan bahwa dirinya tidak menghilang, melainkan justru berada di garis terdepan penanggulangan api.
Dalam pernyataannya itu, Wakil Bupati menegaskan bahwa ia tengah berada di lokasi kebakaran dari 4 hari lalu, bergerak jauh masuk ke kawasan hutan yang membentang dari Desa Sei Putri hingga Tanjung Baik Budi, jauh dari jangkauan akses jalan utama maupun pemukiman warga.
“Sudah 4 hari 4 malam saya berada di sini, bersama rombongan masyarakat peduli api karhutla dari Desa Sei Putri dan Desa Kuala Tolak. Kami bergerak tanpa membawa protokol khusus, dibantu oleh beberapa tim dari BPBD,” ujar Jamhuri Amir melalui sambungan teleponnya, di tengah kondisi lingkungan yang masih dipenuhi asap tebal dan suhu udara yang terasa panas akibat sisa kobaran api.
Jamhuri juga menjelaskan realitas berat yang dihadapi tim di lapangan. Berada jauh di dalam hutan, mereka tidak memiliki fasilitas yang memadai, sehingga upaya pemadaman dilakukan dengan segala keterbatasan yang ada.
“Kami berjibaku berusaha menghalau dan memadamkan api hanya dengan peralatan yang ada seadanya. Tujuan kami satu: yang penting kobaran api tidak terus menjalar masuk lebih dalam ke kawasan hutan, maupun mengancam pemukiman dan lingkungan sekitar warga. Kami mengutamakan upaya pencegahan api merambah ke pemukiman warga dan kawasan hutan yang masih tersisa,” tambahnya.
Terkait mengapa kehadirannya selama ini tidak terekspos luas oleh media maupun diketahui masyarakat, Wakil Bupati meminta pengertian publik dan menjelaskan alasan teknis yang menjadi penyebabnya.
“Mohon maaf kalau kegiatan dan kehadiran kami selama ini tidak terekspos oleh awak media. Sebab lokasi kami berada sangat jauh di dalam kawasan hutan, aksesnya sulit dijangkau, sehingga sulit pula untuk menyampaikan informasi ke luar. Sinyal komunikasi pun sangat terbatas di sini, sehingga butuh waktu dan kesempatan untuk bisa menyampaikan kabar kepada masyarakat luas,” jelasnya.
Ia pun menegaskan bahwa keterbatasan informasi tersebut bukan berarti ia berdiam diri atau tidak peduli terhadap musibah yang terjadi.
“Namun saya tegaskan: saya tidak tinggal diam, saya juga peduli dan berjuang bersama masyarakat Ketapang untuk menanggulangi musibah ini. Kehadiran saya di sini untuk memastikan bahwa upaya penanggulangan karhutla di lapangan berjalan secara langsung bersama warga yang paling terdampak,” tegas Jamhuri Amir.
Pernyataan ini akhirnya menjawab keraguan dan pertanyaan yang mengemuka di tengah masyarakat Ketapang selama beberapa hari terakhir. Publik yang sempat mempertanyakan keberadaan dan peran pemimpin daerah saat bencana melanda, kini mendapatkan penjelasan langsung bahwa Wakil Bupati justru berada di garis terdepan, berjuang di lokasi yang sulit dan berbahaya, meski tidak terlihat di permukaan atau diliput media secara luas. Dengan klarifikasi ini, diharapkan masyarakat dapat memahami situasi yang sebenarnya dan tetap bersatu serta saling mendukung dalam upaya bersama menanggulangi bencana karhutla yang masih terus berlangsung di Kabupaten Ketapang.( DMS)












