KesehatanKetapangRSUD

Kekosongan Terulang Lagi: RSUD dr. Agoesdjam Kini Habis Stok Bahan Medis Cuci Darah — Pasien Terancam Nyawa, Pihak Pengelola Menghindar

×

Kekosongan Terulang Lagi: RSUD dr. Agoesdjam Kini Habis Stok Bahan Medis Cuci Darah — Pasien Terancam Nyawa, Pihak Pengelola Menghindar

Sebarkan artikel ini

KETAPANG — Kekosongan obat dan bahan medis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Agoesdjam kembali terjadi. Kali ini yang paling terdampak adalah pasien cuci darah atau Hemodialisis (HD). Pengaduan yang masuk ke redaksi menyebutkan, sejumlah Bahan Medis Habis Pakai untuk Hemodialisis (BMHP-HD-Set) tidak tersedia di rumah sakit tersebut, namun hingga kini belum ada penjelasan resmi dan jelas mengenai penyebab kelangkaan tersebut.

 

Biasa nya BMHP untuk cuci darah meliputi perangkat vital penunjang proses cuci darah, antara lain: Blood Line (AV Blood Tubing), Dialiser (Hollow Fiber), Jarum Fistula AV, Infus Set, Spuit, serta peralatan pendukung lainnya. Kekosongan ini terjadi di tengah tuntutan hidup-mati para pasien yang bergantung pada rutinitas prosedur HD guna membuang racun dan kelebihan cairan dari tubuh mereka.

 

Saat awak media mencoba menelusuri kebenaran informasi tersebut, Direktur RSUD Agoesdjam, drg. Basaria Rajaguguk,M.sos tidak dapat dihubungi. Nomor ponsel yang tercatat justru dalam keadaan tidak aktif, seolah menutup akses publik terhadap informasi yang seharusnya transparan.

 

Selanjutnya, awak media mencoba mengonfirmasi kepada Kepala Bidang Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan, Yulia Ningsih. Ia membenarkan adanya kelangkaan tersebut dengan singkat.

 

Betul pak. Untuk lebih detailnya, bisa kontak langsung bidang penunjang medis terkait BMHP HD. Biasanya tidak lama pak, masih proses pengiriman. Saya kasih kontak bidang penunjang medis ya pak,” ujar Yulia, yang kemudian menyerahkan kontak Kepala Seksi Penunjang Medik, Apriyanti.

 

Namun saat awak media menghubungi Apriyanti melalui pesan WhatsApp, hingga berita ini diturunkan tidak ada satu pun jawaban yang diberikan. Pertanyaan awak media sekadar dibiarkan tanpa tanggapan sikap diam yang justru semakin mempertegas ketidakjelasan di balik manajemen suplai bahan medis vital di rumah sakit milik pemerintah daerah ini.

 

Yang paling memprihatinkan, pasien cuci darah adalah kelompok pasien prioritas dan darurat. Keterlambatan atau penghentian proses HD bahkan dalam hitungan hari saja dapat memicu risiko yang mengancam nyawa secara langsung:

– Penumpukan cairan berlebih yang dapat menekan paru-paru dan jantung

– Lonjakan kadar kalium yang bisa menyebabkan serangan jantung mendadak

– Keracunan tubuh akibat penumpukan racun sisa metabolisme (uremia)

– Ketidakseimbangan elektrolit yang merusak fungsi organ

– Tekanan darah yang melonjak atau anjlok tak terkendali hingga menyebabkan kematian

 

Di masa-masa sebelumnya, manajemen RSUD kerap memberikan pernyataan tenang bahwa kekosongan obat atau bahan medis tidak mengganggu pelayanan kepada pasien. Namun kini, publik mulai bertanya dengan tajam: pelayanan mana yang tidak terganggu jika pasien yang nyawanya bergantung pada alat dan bahan penunjang rutin justru yang paling terancam?

 

Janji “proses pengiriman” yang diucapkan tanpa disertai kepastian waktu, disertai sikap menghindar dari pimpinan rumah sakit, bukanlah jawaban yang pantas diberikan kepada pasien yang menanti di ambang risiko kematian. Masyarakat berhak tahu: kapan pasien bisa kembali mendapat pelayanan rutin tanpa kekhawatiran? Siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian suplai yang berulang ini? Dan sejauh mana kebijakan pengadaan barang di RSUD Agoesdjam benar-benar mengutamakan keselamatan pasien di atas segalanya?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini belum mendapat jawaban. Sementara itu, pasien cuci darah tetap menanti dengan risiko nyawa yang tak boleh ditawar-tawar lagi.( DMS)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *